30 Oktober 2020

Idul Fitri 2020, Ini Suasananya, Hikmat dan Mengharukan

Idul Fitri 2020 ini memang sangat berbeda. Lebaran tahun ini dirayakan dengan menjaga jarak. Tidak bersalaman dan tidak saling mengunjungi secara fisik.

Idul Fitri 2020, Suasana Berbeda

Selamat Idul Fitri 1441 H, Kang Rudi mohon maaf lahir batin. Mungkin ada kesalahan-kesalahan pada tulisan-tulisan Kang Rudi. Di hari raya Idul Fitri 2020 ini, memang berbeda. Saya akan menuliskan apa yang saya alami pada hari ini.

Saya hari ini bangun pukul 04.30 WIB. Jam segitu di Bekasi baru adzan Shubuh. Mungkin di Tuban, kampung halaman saya, sudah selesai sholat shubuh. Saya sholat shubuh, lalu tidur lagi, hehe. Jangan ditiru!

Suasana Lebaran di Tuban

Setelah beberapa lama saya bangun sekitar pukul 06.00 WIB. Kemudian saya membuka Smartphone saya. Ada banyak sekali ucapan Selamat Idul Fitri yang masuk di Smartphone saya melalui Whatsapp tentu saja.

Saya membuka satu per satu dan berusaha membalasnya. Ada satu yang menarik saya. Ada pesan dari Kang Rey, Ketum Blogger Tuban. Beliau mengatakan bahwa di desanya sepi, tidak ada kerumunan, tidak ada orang berjalan-jalan saling mengunjungi. Beliau sangat bersyukur. Karena selama ini beliau memang sangat gencar berkampanye untuk Jaga Jarak dan taati protokol kesehatan.

Lalu saya membuka beberapa group Facebook yang berbasis di Tuban, suasananya hampir sama dengan yang Kang Rey tunjukkan tadi. Sepi tidak ada suasana seperti tahun-tahun sebelum-sebelumnya. Saya lega sekaligus terharu.

Pengalaman Idul Fitri 2020 dengan Keluarga di Tuban

Saya sudah berusaha membuat suasana yang biasa. Jujur ini adalah lebaran pertama saya di luar Tuban. Sudah 10 tahun merantau dan baru tahun ini tidak bisa pulang ke rumah.

Walaupun sudah berusaha biasa saja. Toh dada mulai sesak rasanya ketika Takbir mulai mengalun dari Masjid komplek. Saya langsung teringat dengan kampung halaman saya yang begitu bersahaja -Ada beberapa yang bandel sih saat wabah berlangsung, hehehe. Tapi jangan bandel lagi, ya. Masak enggak kasihan sama emak, bapak, pak de, pak lik, mbok’e, Mbah Nang, Mbah Dok dan lain-lain.

Saya melakukan Video Call dengan Bapak, Ibuk, Adek dan Keponakan. Duh kok ya seru ya bisa di rumah gitu. Video Call berlangsung seru. Saya lama sekali Video Callnya. Senang melihat keluarga sehat-sehat. Dan yang membuat saya semakin lega adalah Ibu saya cerita bahwa beliau tadi serumah tidak berangkat Sholat Ied di Masjid, beliau melaksanakan Sholat Ied sendiri di Mushola kecil belakang rumah.

Sholat Ied juga diikuti oleh tetangga terdekat rumah. Tidak banyak orang dan tetap menjaga jarak serta tidak salaman. Selesai Sholat Ied pun tidak ada saling mengunjungi, mereka berdiam di rumah. Duh aku nulis ini, mbrebes mili. Hehe. Begitu kuatnya solidaritas mereka untuk saling menjaga kesehatan.

Setelah itu saya lanjutkan video call dengan orang-orang terkasih saya lainnya. Pak Lek, Bu Lek, Misanan yang biasa saya kunjungi ketika mudik ke Tuban.

Pertama Pak Lek dan Bu Lek dari pihak Bapak. Saya senang sekali ketika pertama kali melihat wajah beliau-beliau ini. Ya langsung saja saya memohon maaf atas kesalahan yang selama ini saya perbuat. Banyak banget pasti. Terus ya beberapa lama kemudian dada mulai sesak lagi, tidak bisa menahan haru.

Lebih terharu lagi, beliau mengatakan tidak berani keluar rumah dan mengurungkan niatnya untuk beranjangsana ke sanak keluarganya. Duh mantab Pak Lek dan Bu Lek saya ini. Luar Biasa! Matursuwun sampun berperan memutus rantai penularan Covid19.

Lanjut ke Pak Lek dan Bu Lek dari pihak Ibu Saya. Pas beliau saya Video Call, beliau sedang menyetir mobil. Ya sama saya langsung mohon maaf lahir dan batin. Sama dengan orang-orang terkasih yang sudah saya Video Call sebelumnya, beliau sekeluarga di dalam mobil nampak menggunakan masker.

Duh Ya Allah saya beruntung dikaruniai orang-orang yang sangat peduli dengan kesehatan diri dan lingkungannya. Dari mulai Keluarga, teman masa kecil di kampung halaman dan tetangga-tetangga di kampung halaman. Matursuwun. Nyuwun Agunge Pangapunten sedoyo.

Idul Fitri di Komplek Perumahan

Nah ini sebenarnya agak memalukan. Saya enggak menyangka di komplek saya akan ada yang berkeliling untuk bermaafan. Jadinya saya enggak persiapan sama sekali. Pakaian pun masih pakai pakaian harian. Enggak pakai baju lebaran. Hehehe.

Sama dengan orang-orang di kampung halaman saya tadi. Tetangga-tetangga komplek saya ini juga baik hati. Mereka tidak mengajak bersalaman, kami hanya bertemu dengan jarak minimal 2 meter. Jauh ya? Yap demi kesehatan bersama.

Kami hanya bersua dengan mengucapkan “Mohon maaf lahir batin, ya” Terus sudah mereka berlalu. Tapi begitu saja sudah dalam. Sudah merasuk ke jiwa, halah. Mengharukan pokoknya.

Di malam takbiran idul fitri 2020 semalam saya juga mendapatkan banyak kejutan. Kejutannya berupa aneka makanan dari daging. Alhamdulillah. Terimakasih semuanya. Semoga kita semua sehat.

Enggak berasa udah berapa kata ini tulisan? Haha. Sekali Selamat Idul Fitri 1441 H Mohon maaf lahir batin, semoga kita semua dikaruniai kesehatan, dan semoga wabah segera berakhir supaya kita bisa jalan-jalan ke Tuban! Setuju?!

Related articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *